Press

 

Learning From The Expert: Bigson Alandro – Big Enterprise

 

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri dari persiapan pernikahan adalah prosesnya yang cukup panjang dan melelahkan. Tidak jarang kami temui bahwa pengantin menjadi sering uring-uringan karena perasaan lelah dan kebingungan tersebut. Di saat itu lah, wedding organizer dibutuhkan untuk membantu para calon pengantin dalam persiapan pernikahan.

Hari ini, The Bride Dept berkesempatan untuk bertemu dengan Pak Bigson Alandro, pemilik dari Big Enterprise. Big Enterprise didirikan sejak tahun 2005 dan hingga saat ini Big Enterprise sudah pernah mengalami client-client besar seperti Raffi Ahmad, Catherine Sumitri, dan Tasyi Athasyia. Yuk mari simak obrolan kami dengan Pak Bigson

Boleh diceritakan sedikit latar belakang kenapa bisa terjun ke wedding industry?

Saya sudah berkecimpung di wedding industry sejak tahun 1999. Dari dulu saya memang suka mengikuti proses persiapan pernikahan. Setelah tergabung dengan salah satu wedding organizer di Jakarta selama beberapa tahun, saya tahu bahwa ternyata saya ingin lebih fokus di industri ini. Pada akhirnya saya pun memilih untuk menjadi seorang wedding organizer karena itu membuat saya bisa memberikan masukan dan ide-ide saya kepada calon pengantin.

Kalau Big Enterprise sendiri dimulai sejak kapan?

Saya memulai Big Enterprise pada Maret 2005, jadi sebentar lagi kita akan merayakan 10 tahun-nya Big Enterprise.

Wah, congrats for Pak Bigson and Big Enterprise! Kalau dari Pak Bigson sendiri, latar belakang pendidikannya apa ya?

Latar belakang pendidikan saya adalah Hubungan Internasional. Jadi apabila dulu saya belajar mengenai hubungan negara antar negara, sekarang saya menangani hubungan individu antar individu. Haha.

Apa saja jasa yang ditawarkan oleh Big Enteprise?

Kami menawarkan jasa wedding planner, wedding organizer, entertainment, dan juga MC.

Apa yang membedakan Big Enterprise dengan wedding organizer yang lainnya?

Menurut saya, yang membedakan wedding planner yang satu dan lainnya adalah ide kreatif yang diberikan. Tiap calon pengantin pasti akan memiliki karakter yang berbeda, di sana lah peran wedding planner untuk menggali lebih dalam. Nah, tentu saja ide yang diberikan haruslah kreatif, aplikatif dan berbeda untuk masing-masing klien.

Dalam sebulan, kira-kira berapa pernikahan yang ditangani?

Orang-orang di sini kan masih mengenal dengan yang namanya bulan baik dan tanggal baik. Jadi banyaknya wedding yang ditangani tergantung dari hal tersebut. Tapi untungnya Big Enterprise menangani klien traditional wedding dan international wedding, jadi saling melengkapi.

Kalau untuk size resepsi pernikahan yang biasa ditangani oleh Big Enterprise, biasanya seberapa besar sih? Apakah juga bisa menangani pernikahan yang intimate seperti di Bali?

So far, kebanyakan dari client Big Enterprise merupakan pasangan yang menikah dengan konsep tradisional. Jika kita berbicara mengenai traditional wedding, itu pasti akan selalu melibatkan dua keluarga besar dan relasi-relasi meraka. Sehingga wedding tersebut akan menjadi wedding dengan tamu yang banyak jadi kebanyakan memang Big Enterprise menangani wedding yang besar. Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk menangani wedding yang bersifat intimate dengan jumlah tamu yang lebih sedikit.

Apa sih pekerjaan wedding organizer/ wedding planner yang paling sulit?

Kesulitannya sih mungkin lebih ke arah karakter klien yang berbeda-beda. Akan tetapi hal tersebut bisa diantisipasi dengan komunikasi yang baik. Oleh karena itu, biasanya kita dari Big Enterprise akan membangun hubungan yang baik terlebih dahulu. Hubungan tersebut tidak hanya dengan calon pengantin tetapi juga dengan orang tua mereka dan juga panitia dari pihak keluarga. Apabila komunikasi sudah terjalin dengan baik, maka hubungannya tidak hanya sebatas hubungan kerja lagi tetapi meningkat menjadi teman. Persiapan pernikahan sering kali berhubungan dengan hal-hal non teknis, oleh karena itu hubungannya tidak boleh bersifat kaku. Wedding organizer/ wedding planner harus selalu siap untuk menjadi teman curhat calon pengantin hehe. Nah akan tetapi ada juga faktor eksternal yang sebenarnya tidak bisa kita hindari, seperti faktor cuaca, ataupun faktor jalanan.

Apa hal yang paling utama yang harus dilakukan pengantin dalam mempersiapkan pernikahannya?

Tiap pengantin pasti memiliki dream wedding yang berbeda. Oleh sebab itu, mereka harus tahu apa yang mereka mau dan apa yang mereka tidak mau. Mempersiapkan inspiration board bisa juga menjadi salah satu cara agar mereka bisa menggali lebih dalam apa yang mereka inginkan.

Sebaiknya calon pengantin juga harus memilih tema yang sesuai dengan style mereka. Apabila semuanya sudah sesuai dengan apa yang mereka inginkan, calon pengantin tersebut tidak akan tergoda dengan tema-tema lainnya. Biasanya calon pengantin akan galau apabila tema pilihan mereka tidak sesuai dengan style yang benar-benar mereka inginkan.

http://thebridedept.com/wp-content/themes/thebridedept/library/images/blank.gifApabila calon pengantin ingin menggunakan jasa Big Enterprise, idealnya harus dilakukan berapa bulan sebelum tanggal pernikahan?

Paling minimal adalah 3 bulan. Hal ini sebenarnya karena pada persiapan pernikahan ada yang dinamakan dengan masa produksi, seperti proses cetak undangan, pembuatan baju pengantin. Apabila terlalu mepet, akan ada resiko yang bisa membuat pernikahan ini menjadi kurang tertata rapih. Ada beberapa case di mana pengantin datang ke Big Enterprise dalam waktu kurang dari 3 bulan, tetapi apabila semua detail pernikahannya sudah siap tersedia, jadi itu bukanlah menjadi masalah.

http://thebridedept.com/wp-content/themes/thebridedept/library/images/blank.gifSo far, wedding seperti apa yang sangat memorable?

Wedding yang paling memorable bagi saya adalah wedding yang masa persiapannya menyenangkan dan pada hari H, wedding tersebut memiliki jiwa. Maksud dari memiliki jiwa di sini adalah ambience dari suasana wedding tersebut membuat para tamu betah berlama-lama dan juga menikmati hidangan yang tersebut. Pemilihan lagu juga sangat berpengaruh dalam menentukan ambience tersebut.

Kalau menurut Pak Bigson, wedding trend untuk tahun 2015 ini seperti apa ya?

Untuk tahun 2015 ini, saya melihat bahwa pengantin-pengantin sudah mulai memasukkan unsur-unsur international wedding ke dalam acara pernikahan adat, seperti after party, pelemparan bouquet, dan suasana yang lebih intimate.

Apakah Big Enterprise memiliki vendor-vendor rekanan?

Big Enterprise tidak memiliki vendor rekanan dalam membantu pengantin mempersiapkan pernikahan. Kami berekanan dengan orang yang kreatif dan memiliki ide-ide, orang yang kooperatif, dan orang yang fleksibel di lapangan. Jadi kami bisa bekerja dengan siapa saja, selama mereka memiliki syarat-syarat tersebut di atas.

 

 

 

 

 

 

 

Bigson Alandro : Every Couple Matter

 

Written by Gloria Samantha

Mulai mendirikan Big Enterprise WO sejak Maret 2005, Bigson Alandro memang sangat bervisi dan berdedikasi terhadap dunia wedding. "Yang paling menyenangkan adalah menyaksikan konsep kita dapat diimplementasikan secara baik dan berkelas," katanya membuka cerita pada suatu sore, di salah satu lobi hotel berbintang terbaik di Jakarta.

 

Adanya kebutuhan akan wedding planner profesional yang cukup besar, terutama di kota-kota besar di mana tingkat kesibukan keluarga calon pengantin tinggi, mengawali pembentukan Big Enterprise.

Bigson [B]: Kami memberikan masukan ide-ide kreatif tertentu sebagai konsep acara, lalu turut membantu klien mencari sederetan vendors yang sesuai. Tentunya ide kreatif yang ditawarkan untuk dijadikan pertimbangan bagi klien, tidak merupakan paksaan. Dalam proses, kru Big Enterprise juga selalu mengerjakan segala sesuatu secara rinci, detail. Inilah yang bagian dari ciri khas kami di Big Enterprise.

 

Big Enterprise sudah pernah menangani wedding yang internasional maupun tradisional, dengan berbagai tata cara seperti adat Jawa, Sunda, Palembang, Aceh, Padang, Lampung, bahkan Gorontalo.

B: Yang kami handle juga acara-acara wedding di luar Jakarta: Bandung, Bali, Medan, Palembang, Makassar, Semarang. Sekarang ini jasa WO di Indonesia memang sudah sangat berkembang pesat, mengingat pemahaman calon pengantin beserta keluarganya akan jasa organizer dibutuhkan dalam kesuksesan event ini.

 

Perbedaan wedding dengan event lain terletak pada pendekatan yang lebih personal.

B: Ini merupakan momen sekali seumur hidup, jadi harus ada perhatian yang ekstra. Sehingga nantinya wedding event dapat dikenang sebagai sesuatu yang sempurna. Tidak terlupakan. Kuncinya ada pada kemampuan bernegosiasi yang wajib dimiliki WO, kemampuan diplomasi, dan kemampuan bekerja sama secara cekatan dengan semua pihak yang terlibat.

 

Bagi Bigson, setiap wedding berkesan. Ia menuturkan, pasangan pengantin yang pernah ditanganinya itu menimbulkan kesan masing-masing.

B: So we treat each of them special. Every wedding and every couple matters. Oleh sebab itu pesta pernikahan mereka kami siapkan secara khusus, karena setiap pesta harus menunjukkan karakter pengantin tersebut. Selain itu, akan lebih berkesan juga apabila kerja sama Big Enterprise WO dengan para pengantin tidak terputus setelah acara selesai.

 

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa WO pun mesti sabar, dan dapat cepat memikirkan solusi di tiap masalah demi kesuksesan rangkaian acara. Bigson mengakui, meski demikian kadang tetap ada kendala.

B: Kendala yang paling dirasa biasanya lebih ke kendala bersifat eksternal. Hal-hal di luar kemampuan kami sebagai organizer yang bisa mempengaruhi.Misalnya saat sedang acara, macet atau hujan. Atau soal panitia dan vendor-vendor lain tidak bisa kooperatif.Kalau dari klien sendiri, terus diantisipasi adalah bila ia (klien) seorang yang suka panik, tidak fokus. Jadi perlu diberikan arahan terus-menerus, agar ketika pelaksanaan tidak terjadi kebingungan.

Tahapan-tahapan Tugas Wedding Organizer:

  1. Membantu mencari tahu konsep atau tema acara wedding yang sesuai
  2. Mencari dan menghubungi vendors seperti hotel, dekorator, fotografer, MC, musik, undangan, gaun dan jas pengantin, make-up, dan lain-lain
  3. Melakukan meeting follow-up dengan para vendors bersangkutan
  4. Meeting dengan keluarga pengantin
  5. Food tasting
  6. Technical Meeting
  7. Gladi Resik di tempat prosesi dan tempat resepsi

 

 

 

 

 

 

Artikel dari Majalah Tempo

 

Jakarta - Dengan nada dan gaya bak pramugari pesawat terbang, kalimat selamat datang untuk tamu undangan diucapkan pembawa acara resepsi pernikahan Swetla Wendrasti dan Medi Rahmadi, 26 Februari 2012 lalu. Kalimat pengantar ala "safety flight regulation" itu mengiringi lenggak-lenggok tiga penari perempuan yang mengantarkan Asthie, sapaan akrab Swetla, dan Medi, ke pelaminan pernikahan berkonsep airport atau lapangan udara.

 

Nuansa airport amat melekat pada dekorasi ruang resepsi Asthie dan Medi, di The Centrum, Bandung. Sejumlah perlengkapan khas lapangan udara ditampilkan, tentunya disesuaikan dengan acara. Papan informasi penerbangan yang biasanya berisi jadwal keberangkatan, misalnya, diganti daftar tanggal istimewa dalam perjalanan cinta Asthie Medi, seperti kapan mereka kenal, kencan pertama, lamaran, hingga akhirnya menikah.

 

Pelaminan keduanya pun tak biasa. Jika biasanya sofa panjang nan empuk jadi tempat duduk mempelai, tidak demikian kali ini. Alih-alih sofa, Asthie dan Medi lebih memilih kabin pesawat bikinan sebagai pelaminan mereka. Tak hanya itu, suasana penerbangan juga dihadirkan Asthie-Medi pada meja penerima tamu. "Meja itu jadi semacam "check-in counter" ke pernikahan kami," kata Asthie kepada Tempo, Kamis, 21 Maret 2013.

 

Agar lebih "menghayati" konsep lapangan udara, penerima tamu dan pembawa acara resepsi diminta Asthie mengenakan konstum pilot dan pramugari. Begitu pun kru acara yang melayani sekitar 1500 tamu yang datang, diminta memakai kostum khas petugas bandara yang berwarna orens terang.

 

Sesuai konsep, undangan dan souvenir pernikahan pun sengaja dibuat unik. Undangan pernikahan Asthie-Medi dibuat menyerupai boarding pass lengkap dengan barcode dan nomer kursi, sedangkan souvernir yang dibagikan berupa tas bertuliskan kalimat Napoleon Bonaparte, "The Only Victory Over Love is Flight".

 

Meski berkonsep airport, latar belakang pendidikan maupun profesi Asthie dan Medi tidak berada dalam lingkup angkatan udara. Sehari-harinya, Asthie berprofesi sebagai show director dan konsultan acara, sedangkan Medi adalah pemilik restoran Cuanki Dara Kembar yang berlokasi di Bandung.

 

Konsep lapangan udara melintas di benak Asthie ketika sedang mengecek bakal lokasi pernikahan, di dekat Bandara Husein Sastranegara. Asthie mengaku, semula ia justru merasa terganggu dengan suara bising pesawat yang melewati lokasi tersebut hampir 30 menit sekali. "Tiba-tiba muncul ide, kenapa enggak sekalian aja airport jadi konsep resepsi kami? Jadi kalau ada pesawat beneran lewat, malah jadi nyambung dengan konsepnya, hehehe.."

 

Ide itu ternyata disetujui Medi. Keduanya pun mulai mematangkan konsep tersebut, dibantu sejumlah kolega dan kerabat. "Keluarga, terutama orang tua, alhamdulillah mendukung sekali. Mungkin mereka tahu kami sama-sama bekerja di dunia hiburan, jadi wajar kalau punya ide kreatif dalam mewujudkan pernikahan impian," kata Asthie.

 

Gagasan membuat pernikahan berkonsep lapangan udara diklaim Asthie tidak ribet. Yang sempat membetot waktu dan tenaganya justru "liar" dan beragamnya ide yang berloncatan di kepala. Walhasil, sejumlah ide soal detail resepsi dibatalkan lantaran sulit dieksekusi. Asthie dan suami pun saat itu mesti terus berburu ide baru yang bisa diplikasikan.

 

"Kerja keras" keduanya mewujudkan pernikahan unik terbayar oleh pujian para tamu undangan. Menurut Asthie, hampir semua tamu yang hadir memberi apresiasi positif padanya dan Medi, baik secara langsung, maupun lewat situs microblogging Twitter, layanan BlackBerry Messenger, dan pesan pendek.

 

Beragam pujian itu tak disangkal Asthie membuat dirinya bangga. "Kami senang banget bisa bikin resepsi pernikahan yang berbeda dan diingat orang," ujar Asthie, yang kini akhirnya membuka jasa penyelenggaraan resepsi "yOurday" saking banyaknya kolega yang minta dibantu dibuatkan konsep pernikahan.

 

Ingin berbeda dan diingat orang juga jadi alasan pasangan Arief Darmawan, 36 tahun, dan Chrisandini, 42 tahun, menggelar pesta pernikahan unik. Pasangan yang menikah 26 Februari 2011 lalu ini memilih tema "go green" karena praktis, serta sesuai dengan pernikahan impian mereka yang privat namun hangat.

 

Ditemui Tempo pada Ahad, 17 Maret 2013 lalu, Chrisan dan Arief mengaku sejak awal memang ingin pernikahan mereka berlangsung santai. "Kami ingin saat pesta bisa intens mengobrol dengan tamu undangan. Selama ini kan mempelai hanya berdiri di pelaminan, salaman, foto, selesai," kata Arief, desainer grafis yang juga aktif dalam organisasi lingkungan Green Map Indonesia.

 

Selain karena alasan praktis, konsep "go green" dipilih Arief-Chrisan karena keduanya pertama kali berkenalan di lembaga swadaya masyarakat Pelangi Indonesia, yang bergerak di bidang peduli lingkungan, 2005 silam. Menurut Arief, sejak awal dirinya dan Chrisan memang emoh pesta pernikahan mereka "membebani" bumi. Itulah sebabnya, mulai dari undangan, souvenir, hingga meteri resepsi, dibuat sesederhana mungkin.

 

Undangan untuk tamu misalnya, tak semuanya dibuat dalam bentuk cetak. Dari seratus tamu yang diundang, hanya sebagian kecil yang dikirimi undangan berbahan kertas bekas pakai. Itu pun karena Arief dan Chrisan tak enak hati pada kolega orang tua mereka. "Lainnya sih kirim lewat email saja," ujar Arief.

 

Arief-Chrisan juga memilih menggelar resepsi siang hari, dengan alasan hemat energi. Begitu pula dekorasi dan konsep acara yang dihelat di Joglo Manten Rumah Saya, Kalibata, dibuat seramah mungkin dengan lingkungan. Sejumlah papan pemberitahuan pun ditempel di berbagai sudut lokasi resepsi, dengan tujuan "membimbing" tamu undangan untuk mengikuti konsep acara. Di antaranya papan bertuliskan himbauan untuk meletakkan piring kotor di tempat yang telah disediakan, dan tidak mengambil makanan secukupnya.

 

Adapun untuk konsumsi, Arif-Chrisan berupaya agar makanan dan minuman yang mereka sajikan tidak menambah sampah. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan galon berisi air mineral, alih-alih menyediakan minuman kemasan. Pulpen juga diletakkan di dekat jajaran gelas beling, agar tamu bisa menandai gelas berstiker tersebut dengan nama mereka. "Jadi kalau minum lagi untuk kali kedua, mereka mesti menggunakan gelas yang sama," kata Chrisan.

 

Arief mengklaim para tamu tidak protes dengan konsep pesta pernikahannya. Dari pengamatannya selama resepsi, para tamu justru terkesan dengan kesederhanaan pesta tersebut. "Situasinya juga membuat mereka tidak punya pilihan, ya. Jujur saja kami agak enggak enak, terutama pada tamu orang tua. Tapi ya udah, memang ini yang ingin kami lakukan," ujarnya.

 

Direktur penyelenggara pernikahan (wedding organizer) Big Enterprise (BE), Bigson Alandro, menjelaskan, tingkat keunikan sebuah resepsi pernikahan bergantung pada kemampuan calon mempelai mengekslorasi hobi dan minat mereka. "Karena itu kami biasanya brainstorming dulu dengan calon pengantin," katanya kepada Tempo, Selasa, 19 Maret 2013.

 

Menurut Bigson, tak semua calon pengantin datang membawa ide. Lewat brainstorming-lah BE biasanya mengetahui konsep pernikahan yang diinginkan calon mempelai, yakni lewat eksplorasi hobi, profesi, hingga karakter keduanya. Setelah proses tersebut, baru BE menawarkan sebuah konsep resepsi unik, mencakup dekorasi, warna, serta materi acara.

 

Bigson menuturkan, sejumlah pernikahan berkonsep unik pernah dihelat BE. Di antaranya resepsi pernikahan bertema film "Moulin Rouge" yang mewah dan penuh warna, film "Mamma Mia!" yang berbau pantai dan didomonasi warna biru, konsep "di bawah laut", empat musim, hingga konsep yang mengadaptasi arsitektur kota seperti New York, Paris, maupun Venezia.

 

Sebagai penyelenggara pernikahan, BE diklaim selalu berupaya mewujudkan pernikahan calon mempelai. Namun memang, kata Bigson, persiapannya tak bisa mendadak. Untuk menghadirkan konsep pernikahan unik, BE biasanya membutuhkan waktu persiapan selama 6 bulan hingga setahun.

 

 

 

 

 

Lightworks Magazine Vol. 4

 

press